Back to Blog 13 min read

Human by Design: 4 Tren AI Powerful untuk Potensi Manusia

Human by Design: 4 Tren AI Powerful untuk Potensi Manusia
Luna Luna
Oct 14, 2026

Gelombang Reinvensi Baru: Teknologi yang Dirancang untuk Manusia

Human by Design menandai fase baru dalam pemanfaatan artificial intelligence yang berfokus pada penguatan kapasitas manusia. Laporan terbaru Accenture Technology Vision menegaskan bahwa dunia tengah memasuki gelombang reinvensi baru. Gelombang tersebut berpotensi mengubah hampir setiap aspek bisnis dan kehidupan modern. Gelombang ini didorong oleh artificial intelligence, komputasi spasial, dan solusi pendeteksi tubuh. Teknologi tersebut kian intuitif, adaptif, serta selaras dengan perilaku manusia dalam berbagai konteks penggunaan.

Konsep Human by Design menjadi prinsip utama dalam merancang teknologi masa depan agar benar-benar berpusat pada manusia dan nilai kemanusiaan. Pendekatan ini menuntut setiap inovasi digital dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan, pengalaman, dan keterbatasan manusia sejak tahap konseptual. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menghadirkan efisiensi, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi, kepercayaan, dan penerimaan di tingkat individu maupun organisasi.

Human by Design: artificial intelligence yang dirancang untuk memperkuat potensi manusia

Human by Design di Panggung CES 2024

Pada ajang CES 2024 di Las Vegas, Accenture meluncurkan edisi ke-24 Accenture Technology Vision. Edisi tersebut berjudul “Human by Design: How AI unleashes the next level of human potential”. Tema Human by Design menyoroti bagaimana artificial intelligence dan teknologi disruptif lain dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia. Teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia dalam berbagai aktivitas. Teknologi yang menyerupai manusia kini semakin canggih. Selain itu, teknologi tersebut lebih mudah digunakan, lebih intuitif, dan terasa alami dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan tersebut menekankan bahwa organisasi yang mengadopsi prinsip Human by Design cenderung memperoleh keunggulan kompetitif yang lebih berkelanjutan. Berbagai studi industri menunjukkan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan artificial intelligence berpusat manusia dapat meningkatkan produktivitas hingga dua digit persentase. Selain itu, mereka juga mampu mempercepat inovasi produk dan layanan dengan tetap menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan.

Seiring kemajuan teknologi, manusia akan mampu mencapai lebih banyak hal dan menyelesaikan tugas yang sebelumnya tampak mustahil. Artificial intelligence, komputasi spasial, dan teknologi pendeteksi tubuh membuka cara baru untuk bekerja, belajar, berkolaborasi, dan berinteraksi lintas ruang. Organisasi yang memanfaatkannya secara strategis dapat merancang pengalaman kerja yang lebih adaptif, personal, dan inklusif bagi karyawan maupun pelanggan.

Merancang Teknologi Berpusat Manusia

Untuk memaksimalkan peluang ini, organisasi perlu memastikan bahwa setiap inovasi mengikuti prinsip Human by Design sejak tahap awal perancangan. Artinya, kebutuhan, nilai, dan pengalaman manusia harus menjadi pusat dari setiap keputusan teknologi yang diambil. Pendekatan ini mencakup desain antarmuka yang intuitif, mekanisme transparansi, serta perlindungan terhadap privasi dan keamanan data pengguna.

Dalam presentasi Tech Vision di CES, Accenture menghadirkan sejumlah pemikir dan inovator terkemuka untuk membahas Human by Design. Di antaranya adalah Dr. Fei-Fei Li dari Stanford, pendiri AI4ALL. Beliau dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan artificial intelligence yang bertanggung jawab dan inklusif. Kehadiran tokoh akademik ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara industri dan dunia pendidikan dalam membentuk masa depan artificial intelligence.

Hadir pula Will Beery, CIO Mars Snacking, yang memimpin transformasi digital luas di perusahaannya. Transformasi tersebut memanfaatkan artificial intelligence dan otomatisasi cerdas. Pengalaman Mars menunjukkan bahwa penerapan Human by Design dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen. Selain itu, Mary Hamilton dari tim Inovasi Accenture membahas manfaat teknologi pendeteksi tubuh bagi kualitas hidup sehari-hari. Manfaat tersebut hadir melalui pemantauan kesehatan dan keselamatan.

Inovasi Imersif dan Teknologi yang Menyatu dengan Kehidupan

Sepanjang CES 2024, suasana pameran mencerminkan semangat Human by Design yang diusung Accenture Technology Vision. Berbagai inovasi yang dipamerkan menunjukkan bagaimana teknologi yang menyerupai manusia semakin menyatu dengan aktivitas harian. Di berbagai stan, pengunjung dapat melihat chatbot berbasis artificial intelligence generatif yang mampu berinteraksi secara alami dan kontekstual dengan pengguna.

Selain itu, terdapat perangkat wearable dengan kemampuan pendeteksi tubuh yang dapat memantau gerakan, biometrik, dan kondisi kesehatan secara waktu nyata. Lingkungan imersif yang dihadirkan melalui komputasi spasial memungkinkan pengguna berinteraksi dengan data dan objek digital secara tiga dimensi. Teknologi yang dulu terasa futuristik kini hadir begitu mulus hingga hampir tidak disadari dalam pengalaman sehari-hari.

Di Innovation Hub Accenture di CES, konsep Human by Design diwujudkan secara nyata melalui berbagai pengalaman interaktif yang sistematis. Pengunjung dapat merasakan pengalaman balap VR di dalam sebuah Lamborghini yang dirancang untuk menghadirkan sensasi realistis dan responsif. Simulasi ini menunjukkan bagaimana integrasi artificial intelligence, sensor, dan komputasi spasial dapat menciptakan pengalaman hiburan yang lebih imersif.

Eksperimen Neurosensing dan Layanan Digital Generatif

Pengunjung juga dapat mengeksplorasi BrainGym, solusi neurosensing yang memanfaatkan sinyal otak untuk memahami respons manusia terhadap berbagai stimulus. BrainGym menggambarkan bagaimana teknologi pendeteksi tubuh dan sinyal neurologis dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran, pelatihan, dan kesejahteraan. Selain itu, tersedia concierge digital berbasis artificial intelligence generatif untuk layanan personal. Layanan ini dirancang agar terasa lebih manusiawi dan adaptif.

Pengalaman golf imersif yang dikembangkan bersama LPGA menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperkaya olahraga dan hiburan melalui analitik waktu nyata. Sistem ini memanfaatkan data gerak tubuh, posisi, dan kecepatan untuk memberikan umpan balik yang presisi kepada pemain. Pendekatan Human by Design memastikan teknologi tersebut mudah digunakan oleh atlet profesional maupun pemula. Hal ini tercapai tanpa mengurangi aspek humanis dalam olahraga.

Empat Tren Utama Human by Design

Seluruh demonstrasi tersebut menegaskan bahwa teknologi yang dirancang dengan prinsip Human by Design mampu memperluas potensi manusia secara signifikan. Teknologi tidak lagi sekadar alat, tetapi mitra yang bekerja bersama manusia dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan tugas. Accenture Technology Vision menyoroti empat tren utama Human by Design yang memperluas kemampuan manusia. Keempat tren itu juga mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia digital.

Tren pertama adalah integrasi artificial intelligence generatif dalam proses kerja. Tren kedua adalah komputasi spasial yang menghadirkan lingkungan digital imersif. Selanjutnya, ada teknologi pendeteksi tubuh yang memahami kondisi fisik, serta sistem yang mampu belajar dari interaksi manusia. Tren ini menekankan pentingnya membangun teknologi yang bekerja bersama manusia, bukan hanya bekerja untuk mereka. Dengan demikian, organisasi dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Empat tren utama Human by Design dalam Accenture Technology Vision 2024

Artificial Intelligence Generatif sebagai Mitra Pengetahuan

Tren pertama dalam laporan ini diberi judul A Match Made in AI. Accenture menyoroti bagaimana artificial intelligence generatif mengubah cara manusia mencari dan memakai pengetahuan. Sebelumnya, orang harus menelusuri banyak dokumen dan halaman web untuk menemukan jawaban. Kini, asisten berbasis model bahasa besar dapat merangkum informasi dan menjawab pertanyaan secara percakapan. Perubahan ini membuat akses terhadap pengetahuan terasa lebih cepat, personal, dan relevan dengan kebutuhan setiap pengguna.

Namun, prinsip Human by Design mengingatkan bahwa jawaban yang cepat belum tentu jawaban yang benar. Oleh karena itu, organisasi perlu memastikan sumber data yang digunakan model AI akurat dan terkurasi. Selain itu, pengguna perlu tetap memiliki ruang untuk memeriksa, mengoreksi, dan memahami asal jawaban. Dengan pendekatan ini, artificial intelligence generatif berperan sebagai mitra berpikir, bukan pengganti penilaian manusia.

Agen AI dan Sistem yang Belajar dari Interaksi

Tren kedua berjudul Meet My Agent, yang membahas ekosistem agen AI. Agen AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat menjalankan rangkaian tugas atas nama pengguna. Misalnya, agen dapat menjadwalkan pertemuan, memproses permintaan pelanggan, atau menyusun laporan dari berbagai sumber data. Sistem seperti ini terus belajar dari interaksi sehingga kinerjanya meningkat seiring waktu.

Meski demikian, semakin otonom sebuah agen, semakin penting pula pengawasan manusia di dalamnya. Organisasi perlu menetapkan batas kewenangan agen, alur persetujuan, serta mekanisme audit yang jelas. Pasalnya, kesalahan kecil yang dilakukan agen otomatis dapat berdampak luas jika tidak segera terdeteksi. Di sinilah prinsip berpusat manusia berperan sebagai pedoman agar agen tetap bekerja sesuai nilai dan tujuan manusia.

Komputasi Spasial dan Lingkungan Digital Imersif

Tren ketiga, The Space We Need, menyoroti potensi komputasi spasial dalam menciptakan nilai baru. Komputasi spasial menggabungkan dunia fisik dan digital melalui perangkat augmented reality, virtual reality, dan mixed reality. Teknologi ini memungkinkan tim berkolaborasi dalam ruang virtual seolah berada di lokasi yang sama. Selain itu, pelatihan karyawan dapat dilakukan melalui simulasi realistis tanpa risiko di dunia nyata.

Agar benar-benar bermanfaat, pengalaman spasial harus dirancang dengan memperhatikan kenyamanan dan kebutuhan pengguna. Sebagai contoh, durasi penggunaan headset, navigasi antarmuka, dan aksesibilitas perlu dipertimbangkan sejak awal. Tanpa perhatian tersebut, teknologi imersif justru dapat menimbulkan kelelahan dan kebingungan bagi penggunanya. Oleh karena itu, uji coba bersama pengguna nyata sebaiknya dilakukan sebelum teknologi diterapkan secara luas.

Teknologi Pendeteksi Tubuh sebagai Antarmuka Baru

Tren keempat berjudul Our Bodies Electronic, yang membahas teknologi pendeteksi tubuh. Perangkat seperti wearable, sensor gerak, hingga antarmuka otak-komputer mulai memahami kondisi fisik dan kognitif manusia. Teknologi ini membuka peluang besar di bidang kesehatan, keselamatan kerja, olahraga, dan pendidikan. Hasilnya, interaksi dengan mesin dapat berlangsung lebih alami melalui gerakan, suara, bahkan sinyal tubuh.

Di sisi lain, data biometrik dan neurologis termasuk data yang sangat sensitif. Oleh karena itu, persetujuan pengguna, keamanan penyimpanan, dan transparansi penggunaan data menjadi syarat mutlak. Prinsip Human by Design menuntut agar teknologi ini dikembangkan untuk melindungi manusia, bukan mengawasi mereka secara berlebihan.

Etika, Kepercayaan, dan Tanggung Jawab Digital

Human by Design juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam pengembangan dan penerapan teknologi di berbagai sektor. Organisasi perlu memastikan bahwa artificial intelligence dan teknologi lain digunakan secara etis, transparan, dan inklusif bagi semua kelompok masyarakat. Pendekatan ini mencakup pengelolaan bias algoritmik, perlindungan data pribadi, serta keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses desain.

Dengan demikian, kepercayaan pengguna dapat terjaga, dan manfaat teknologi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat tanpa menimbulkan eksklusi digital. Berbagai laporan global menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap artificial intelligence meningkat ketika prinsip etika dan transparansi diterapkan secara konsisten. Human by Design membantu mencegah dampak negatif yang mungkin timbul jika teknologi dikembangkan tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

Sebagai langkah konkret, organisasi dapat menerapkan uji dampak sebelum meluncurkan sistem artificial intelligence baru. Uji ini menilai potensi risiko terhadap privasi, keadilan, dan keselamatan pengguna. Selain itu, organisasi perlu menyediakan saluran bagi pengguna untuk menyampaikan keberatan atau meminta penjelasan atas keputusan otomatis. Dokumentasi yang rapi tentang cara kerja model juga membantu tim audit memahami alasan di balik setiap keluaran. Dengan langkah tersebut, kepercayaan tidak hanya dijanjikan, tetapi juga dibuktikan melalui praktik sehari-hari.

Peluang Human by Design bagi Bisnis di Indonesia

Prinsip Human by Design juga relevan bagi organisasi di Indonesia yang sedang mempercepat transformasi digital. Banyak perusahaan mulai memanfaatkan artificial intelligence untuk layanan pelanggan, pemasaran, hingga operasional internal. Namun, keberhasilan adopsi teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem yang digunakan. Faktor penentunya adalah sejauh mana teknologi tersebut memahami bahasa, budaya, dan kebiasaan pengguna lokal.

Sebagai contoh, pelanggan di Indonesia terbiasa berkomunikasi melalui aplikasi pesan dengan bahasa yang santai dan beragam. Asisten virtual yang dirancang dengan pendekatan berpusat manusia akan memahami variasi bahasa tersebut dengan lebih baik. Selain itu, asisten tersebut dapat mengalihkan percakapan kepada agen manusia ketika pelanggan membutuhkan empati lebih. Kombinasi kecepatan mesin dan kepekaan manusia inilah yang menciptakan pengalaman layanan yang memuaskan.

Sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, perbankan, dan ritel juga dapat memperoleh manfaat serupa. Di sektor pendidikan, misalnya, platform pembelajaran adaptif dapat menyesuaikan materi dengan kemampuan setiap siswa. Sementara itu, di sektor kesehatan, teknologi pendeteksi tubuh dapat membantu pemantauan pasien jarak jauh. Kuncinya adalah merancang setiap solusi bersama pengguna, bukan sekadar untuk pengguna.

Langkah Praktis Menerapkan Human by Design

Mengadopsi Human by Design tidak harus dimulai dengan proyek besar dan mahal. Organisasi dapat memulai dari langkah-langkah sederhana yang konsisten dan terukur. Berikut beberapa langkah praktis yang dapat dipertimbangkan oleh tim bisnis maupun tim teknologi.

Mulai dari Kebutuhan Nyata Pengguna

Langkah pertama adalah memahami masalah nyata yang dihadapi pelanggan dan karyawan. Riset pengguna, wawancara, dan analisis data interaksi dapat membantu mengidentifikasi titik-titik hambatan. Dengan begitu, teknologi yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren. Pendekatan ini juga mencegah investasi pada fitur yang jarang digunakan.

Libatkan Karyawan Sejak Tahap Awal

Karyawan adalah pihak yang paling merasakan dampak perubahan teknologi dalam pekerjaan sehari-hari. Oleh karena itu, libatkan mereka dalam proses perancangan, uji coba, dan evaluasi solusi baru. Pelatihan dan peningkatan keterampilan juga perlu disiapkan agar karyawan percaya diri bekerja bersama AI. Hasilnya, resistensi terhadap perubahan dapat ditekan dan adopsi teknologi berjalan lebih lancar.

Bangun Tata Kelola AI yang Jelas

Setiap organisasi membutuhkan kebijakan yang mengatur penggunaan artificial intelligence secara bertanggung jawab. Kebijakan ini mencakup standar kualitas data, perlindungan privasi, pengelolaan bias, dan alur pengambilan keputusan. Selain itu, perlu ada tim atau komite yang bertugas memantau penerapan kebijakan tersebut. Tata kelola yang jelas akan memperkuat kepercayaan pelanggan, regulator, dan mitra bisnis.

Ukur Dampak secara Berkelanjutan

Langkah terakhir adalah mengukur dampak teknologi terhadap pengguna dan bisnis secara berkala. Metrik yang digunakan sebaiknya tidak hanya berfokus pada efisiensi biaya. Kepuasan pelanggan, kesejahteraan karyawan, dan tingkat kepercayaan pengguna juga perlu dipantau. Dengan evaluasi rutin, organisasi dapat terus menyempurnakan solusi sesuai prinsip Human by Design.

Tantangan dalam Mengadopsi Human by Design

Meski menjanjikan, penerapan Human by Design tetap menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan pertama adalah kesenjangan keterampilan digital di antara karyawan dan masyarakat. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk memanfaatkan teknologi baru secara optimal. Oleh karena itu, program literasi digital perlu berjalan seiring dengan adopsi teknologi.

Tantangan berikutnya adalah kualitas dan ketersediaan data yang memadai. Model artificial intelligence hanya akan sebaik data yang digunakan untuk melatihnya. Data yang tidak lengkap atau bias dapat menghasilkan keputusan yang tidak adil bagi kelompok tertentu. Selain itu, biaya investasi awal dan integrasi dengan sistem lama sering menjadi hambatan bagi organisasi menengah.

Meski begitu, tantangan tersebut dapat diatasi dengan strategi bertahap dan kolaborasi lintas pihak. Organisasi dapat bermitra dengan penyedia teknologi, institusi pendidikan, dan komunitas untuk mempercepat kesiapan. Dengan komitmen jangka panjang, manfaat teknologi berpusat manusia dapat dirasakan secara lebih merata.

Pertanyaan Umum seputar Human by Design

Apa yang Dimaksud dengan Human by Design?

Human by Design adalah tema Accenture Technology Vision 2024 yang menekankan teknologi berpusat manusia. Konsep ini mendorong agar artificial intelligence dan teknologi lain dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia. Dengan kata lain, teknologi diposisikan sebagai mitra, bukan pengganti manusia.

Teknologi Apa Saja yang Menjadi Fondasinya?

Fondasi utamanya adalah artificial intelligence generatif, agen AI, komputasi spasial, dan teknologi pendeteksi tubuh. Keempat teknologi ini membuat interaksi antara manusia dan mesin terasa semakin alami dan intuitif.

Mengapa Etika Penting dalam Teknologi Berpusat Manusia?

Etika penting karena teknologi berpusat manusia banyak memproses data pribadi dan memengaruhi keputusan penting. Tanpa prinsip etika, teknologi berisiko menimbulkan bias, pelanggaran privasi, dan hilangnya kepercayaan publik.

Masa Depan Interaksi Manusia dan Teknologi

Accenture mengajak organisasi dan individu membentuk masa depan interaksi manusia dan teknologi yang lebih manusiawi melalui Human by Design. Konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi kerangka kerja praktis untuk merancang inovasi yang relevan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut mencakup desain pengalaman pengguna, tata kelola data, serta model operasi yang menempatkan manusia sebagai pusat.

Dengan menjadikan manusia sebagai pusat, teknologi dapat menjadi sarana untuk melepaskan tingkat berikutnya dari potensi manusia, bukan menggantikannya. Organisasi yang mengadopsi Human by Design berpeluang menciptakan nilai bisnis yang eksponensial sekaligus memperkuat dampak sosial positif. Hal ini sejalan dengan tren global yang menempatkan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial sebagai prioritas strategis.

Kesimpulan: Human by Design sebagai Arah Inovasi

Ringkasnya, Human by Design menggambarkan visi masa depan di mana setiap inovasi teknologi dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia. Artificial intelligence, komputasi spasial, dan teknologi pendeteksi tubuh menjadi fondasi gelombang reinvensi baru yang menyentuh setiap sektor ekonomi. Accenture Technology Vision 2024 menunjukkan bahwa masa depan ini sudah mulai terbentuk melalui berbagai implementasi nyata di industri.

Tantangannya adalah memastikan bahwa setiap langkah inovasi tetap berpegang pada prinsip Human by Design. Dengan begitu, teknologi benar-benar menghadirkan nilai eksponensial bagi bisnis dan masyarakat. Organisasi perlu mengembangkan strategi, kebijakan, dan kapabilitas yang konsisten dengan prinsip tersebut. Dengan demikian, transformasi digital dapat berlangsung secara bertanggung jawab dan berorientasi pada manusia.

Dengan berpegang pada Human by Design, organisasi dapat mendefinisikan ulang hubungan mereka dengan teknologi secara lebih strategis dan berkelanjutan. Masa depan yang sedang dibangun adalah masa depan di mana teknologi dirancang untuk memahami, mendukung, dan memperluas potensi manusia. Accenture mengundang semua pihak untuk berperan aktif dalam perjalanan ini. Setiap inovasi yang lahir diharapkan tetap setia pada prinsip Human by Design.

 

You Might Also Like