Memantik Kreativitas Siswa dengan AI Avatar

August 20, 2026 | by Luna

Self-Sovereign Information Environment untuk Pendidikan Kreatif Generasi Muda

Self-Sovereign Information Environment (SSIE) menjadi pusat kolaborasi terbaru antara Dentsu Innovation Initiative dan Yoichi Ochiai. Keduanya merupakan dua nama yang kian sering muncul dalam percakapan global mengenai masa depan pendidikan dan teknologi. Inisiatif ini dirancang untuk menciptakan sebuah lingkungan informasi yang menempatkan kendali data dan identitas digital sepenuhnya di tangan individu. Dengan kata lain, kendali tersebut bukan berada di tangan platform atau korporasi besar. Melalui Self-Sovereign Information Environment, siswa sekolah dasar dan menengah pertama diajak berkreasi bersama berbagai sistem AI. Selain itu, mereka juga mendapat dukungan agen AI Avatar yang dipersonalisasi. Tujuannya melampaui sekadar efisiensi belajar. Proyek ini berupaya memperkuat kemampuan bertanya, berpikir mandiri, dan memberi makna reflektif pada karya yang mereka hasilkan.

Dentsu Group Inc. berkantor pusat di Minato-ku, Tokyo. Melalui organisasi R&D lintas grupnya, yakni Dentsu Innovation Initiative (DII), perusahaan ini menggagas proyek demonstrasi Self-Sovereign Information Environment. Proyek tersebut akan diterapkan dalam program pendidikan Yoichi Ochiai Summer School 2026 di Prefektur Kagoshima pada 24–26 Juli 2026. Dalam program tersebut, Self-Sovereign Information Environment digunakan untuk menghadirkan lingkungan belajar generasi berikutnya. Lingkungan ini memadukan kreativitas manusia dan teknologi AI secara seimbang. Kemampuan AI generatif kini semakin meningkat dan mengubah cara manusia bekerja, belajar, serta memproduksi pengetahuan. Di tengah perkembangan ini, proyek tersebut menekankan pentingnya menjaga proses yang membantu individu merumuskan pertanyaan sendiri dan memperdalam pemikiran kritis. Siswa ditempatkan sebagai penggerak utama kreativitas dan refleksi, sementara teknologi berperan sebagai pendukung yang terstruktur.

AI Avatar sebagai Mediator Cerdas dalam Ekosistem Pembelajaran

Dalam proyek ini, siswa berinteraksi dengan berbagai sistem AI. Interaksi ini melalui agen AI Avatar yang dirancang untuk memahami mereka sebagai individu unik. Avatar AI dipersonalisasi berdasarkan minat, riwayat percakapan, dan cara berpikir masing-masing siswa. Data tersebut terekam secara sistematis dalam kerangka Self-Sovereign Information Environment. Saat menciptakan karya seni atau proyek kreatif bersama AI, siswa didorong untuk bertanya dan bereksperimen. Selain itu, mereka juga diajak menafsirkan hasil secara mandiri dan kritis. Lingkungan informasi yang dibangun Self-Sovereign Information Environment diharapkan mampu mendukung proses refleksi dan pencarian makna tersebut secara berkelanjutan. Dengan demikian, teknologi tidak sekadar menjadi mesin jawaban instan, melainkan mitra dialog yang memicu pemikiran.

Sejak 2018, Dentsu Innovation Initiative telah bekerja sama dengan Yoichi Ochiai Summer School. Kolaborasi ini menghadirkan pengalaman langsung mengenai lingkungan informasi tingkat lanjut. Pada Yoichi Ochiai Summer School 2025, Dentsu Innovation Initiative mengadakan demonstrasi berbasis Self-Sovereign Information Environment. Dalam demonstrasi tersebut, setiap siswa memperoleh avatar AI pribadi. Avatar tersebut digunakan untuk memperdalam pemahaman diri melalui dialog berkelanjutan dan pencatatan hubungan belajar dalam bentuk NFT yang terdesentralisasi. Eksperimen ini menelaah bagaimana teknologi Web3 dapat diterapkan dalam konteks pendidikan dan pembelajaran kreatif yang berorientasi pada kedaulatan informasi. Berdasarkan hasil tahun sebelumnya, proyek 2026 meningkatkan peran avatar AI. Peran tersebut berkembang dari sekadar mitra percakapan menjadi agen penghubung ke berbagai sistem AI. Oleh karena itu, siswa tidak perlu mengelola beragam alat AI yang kompleks dan terus berkembang secara langsung.

Privasi, Web3, dan Identitas Digital yang Berdaulat

Dalam pengaturan baru ini, siswa dapat berkonsultasi dengan agen avatar AI pribadi mengenai minat, kekhawatiran, dan ide. Selain itu, mereka juga dapat mengungkapkan perasaan yang belum sepenuhnya terungkap. Avatar AI bertindak sebagai perantara yang menghubungkan siswa dengan sistem AI paling relevan dan aman bagi tujuan belajar mereka. Pertimbangan ini mencakup minat, kekuatan, kelemahan, dan riwayat percakapan setiap individu. Dengan cara ini, siswa tetap menjadi pelaku utama dalam proses penciptaan, refleksi, dan pengambilan keputusan kreatif. Sementara itu, sistem AI berperan sebagai pendukung yang mengorganisasi informasi, membantu produksi, atau memunculkan perspektif baru yang terstruktur. Pembedaan peran yang jelas ini membantu siswa memusatkan perhatian pada pertanyaan mendasar yang ingin mereka eksplorasi secara sistematis. Dengan begitu, mereka tidak terdistraksi oleh kompleksitas teknis pengelolaan alat digital.

Konsep “Digital Fermentation” yang dikemukakan Yoichi Ochiai menjadi rujukan penting dalam proyek ini dan kerangka berpikir desainnya. Fermentasi tradisional melibatkan pengelolaan transformasi dengan memahami bahan, lingkungan, waktu, suhu, dan aktivitas mikroorganisme secara holistik. Digital Fermentation memperluas cara berpikir tersebut ke ranah computational nature. Dalam ranah ini, batas antara buatan dan alami semakin kabur dalam ekosistem digital. Dalam konteks ini, siswa diajak mengembangkan ekspresi kreatif bersama agen avatar AI. Agen tersebut mampu menyimpulkan dan memahami pandangan dunia mereka secara bertahap. Proyek Self-Sovereign Information Environment meneliti penerapan teknologi Web3 untuk pembelajaran kreatif dan reflektif melalui empat fokus utama. Pertama, ko-kreasi dengan berbagai sistem AI melalui agen avatar yang memahami identitas belajar siswa. Kedua, keberlanjutan identitas dan pemisahan informasi identitas pribadi (PII). Ketiga, pencatatan pengalaman dan hubungan melalui Friendship NFT dan Graduation Certificate NFT. Keempat, kelanjutan koneksi melalui Web3 personal page, kartu nama, dan kartu IC sebagai antarmuka identitas.

Membangun Ekosistem Pendidikan Kreatif yang Berkelanjutan

Self-Sovereign Information Environment yang menjadi landasan proyek ini tidak hanya berfungsi untuk menganonimkan data secara teknis. Kerangka ini bertujuan menciptakan lingkungan informasi di mana individu dapat dengan aman membagikan minat dan kekhawatiran. Selain itu, mereka juga dapat membagikan perasaan yang belum terucapkan kepada entitas tepercaya. Siswa dapat melakukan percakapan mendalam, bahkan bersifat pribadi, dengan agen avatar AI yang mereka percayai. Agen tersebut beroperasi dalam kerangka kedaulatan data. Melalui dialog tersebut, agen mengembangkan pemahaman yang bernuansa mengenai sudut pandang dan kepekaan masing-masing siswa secara longitudinal. Selanjutnya, agen memberikan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan belajar berdasarkan data yang dikelola secara mandiri. Ketika layanan AI eksternal digunakan, agen hanya akan meminta tugas yang diperlukan tanpa membagikan informasi identitas pribadi secara langsung. Dengan demikian, privasi tetap terjaga di tengah akses ke lingkungan AI tingkat lanjut.

Melalui proyek ini, Dentsu Innovation Initiative memperkirakan agen AI Avatar akan berevolusi menjadi entitas yang semakin memahami setiap individu. Evolusi ini dibangun melalui dialog berkelanjutan yang mendukung kreativitas, refleksi, dan pengembangan kapasitas berpikir kritis. Dengan memanfaatkan Friendship NFT dan Graduation Certificate NFT, Dentsu Innovation Initiative juga bertujuan membangun lingkungan informasi. Lingkungan ini menghubungkan pengalaman selama Summer School dengan eksplorasi di masa depan. Ke depan, organisasi ini membayangkan terciptanya ruang digital tempat para siswa dapat menghasilkan peluang baru untuk belajar dan bekerja sama. Ruang tersebut dirancang dengan prinsip desain self-sovereign. Prinsip ini menempatkan niat dan privasi individu sebagai prioritas utama dalam setiap interaksi digital. Pengguna dapat mengendalikan sejauh mana informasi yang mereka pilih untuk diungkapkan dalam berbagai konteks digital dan ekosistem AI. Dengan begitu, manusia tetap menjadi agen utama kreativitas dan refleksi di era teknologi cerdas.

Peran Dentsu Innovation Initiative dan Mitra dalam Ekosistem Web3

Proyek ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan masa depan di mana AI berpikir menggantikan manusia dalam proses kreatif. Sebaliknya, Self-Sovereign Information Environment dimanfaatkan untuk memastikan bahwa individu tetap menjadi subjek utama kreativitas dan refleksi di era AI. Proses belajar, aktivitas kreatif, dan hubungan yang muncul darinya dihubungkan dengan nilai sosial berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, Dentsu Innovation Initiative berupaya memupuk potensi generasi mendatang. Inisiatif ini juga berkontribusi pada masyarakat berkelanjutan di mana manusia dan teknologi bersama-sama menciptakan nilai yang bermakna. Dentsu Innovation Initiative sendiri adalah organisasi internal yang bertanggung jawab mendorong kegiatan R&D di seluruh dentsu secara terkoordinasi. Selain itu, inisiatif ini membentuk “web3 club™”, organisasi lintas grup yang meneliti dan mengimplementasikan bisnis baru di ranah Web3. Kolaborasi ini melibatkan Dentsu Inc., Dentsu Research Institute, Inc., dan Septeni Incubate Inc..

Self-Sovereign Information Environment adalah kerangka kerja terdesentralisasi yang diusulkan Dentsu Innovation Initiative dan Panasonic Holdings Corporation serta mitra lainnya. Kerangka ini memungkinkan individu mengelola data dan identitas digital mereka sendiri. Selain itu, mereka juga dapat membagikan hanya informasi yang dipilih secara aman dan terukur. Dalam inisiatif sebelumnya, Dentsu Innovation Initiative, Panasonic Holdings, dan para mitra mengembangkan Self-Sovereign Information Environment untuk pembelajaran berbasis avatar AI. Pengembangan ini berlandaskan konsep Digital Fermentation yang memperluas cara mengelola transformasi ke dunia digital yang terhubung. Di dunia di mana batas antara materi dan informasi semakin memudar, siswa diajak mengembangkan ekspresi kreatif bersama agen avatar AI. Agen tersebut memahami pandangan mereka secara mendalam. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kedaulatan informasi dan privasi adalah fondasi utama ekosistem pendidikan kreatif masa depan.

 

Recommended Article