Startup London Galang US$50 Juta untuk Bangun Infrastruktur AI Berdaulat

July 16, 2026 | by Luna

Pendanaan Seri A Perkuat Ambisi Valarian Bangun Infrastruktur AI Berdaulat

AI berdaulat tengah menjadi salah satu medan persaingan strategis baru di berbagai negara, namun infrastruktur yang menopangnya masih didominasi raksasa teknologi global. Di tengah dinamika tersebut, Valarian, perusahaan rintisan berbasis di London, berhasil mengamankan pendanaan Seri A senilai US$50 juta untuk membangun lapisan infrastruktur AI berdaulat yang ditujukan bagi negara dan korporasi di luar orbit perusahaan teknologi besar. Dengan putaran terbaru ini, total pendanaan yang dikantongi Valarian kini mencapai US$70 juta.

Model bisnis Valarian bertumpu pada pengembangan sebuah lapisan perangkat lunak yang beroperasi di bawah sistem AI yang digunakan pemerintah dan organisasi. Lapisan ini dirancang untuk memberikan kendali penuh atas bagaimana, kapan, dan oleh siapa AI digunakan. Ambisi Valarian jelas: menjadi pemain kunci dalam infrastruktur yang berpotensi menjadi komponen vital keamanan nasional di era digital, ketika data dan algoritma kian diperlakukan layaknya aset strategis.

Pendanaan Seri A ini dipimpin oleh New Enterprise Associates, salah satu nama besar di dunia modal ventura, dengan partisipasi Lightbank, XTX Ventures, Litquidity Ventures, dan Sequel. Sejumlah investor berprofil tinggi Silicon Valley, termasuk Gokul Rajaram dan Nikesh Arora, juga ikut ambil bagian. Kombinasi investor tersebut menempatkan Valarian dalam radar global sebagai salah satu kandidat utama dalam perlombaan membangun “tulang punggung” AI berdaulat.

Dalam pernyataan resminya, Valarian menggambarkan produknya sebagai sistem tata kelola pada tingkat beban kerja (workload) yang membentang di seluruh lingkungan tempat aplikasi kritis, sistem AI, dan beban kerja operasional dijalankan. Artinya, pemerintah atau perusahaan tetap dapat memanfaatkan infrastruktur cloud dari penyedia hyperscale seperti AWS atau Microsoft untuk menjalankan AI berdaulat. Namun, kontrol atas pemanfaatan data dan alur kerja—siapa yang boleh mengakses apa, dan untuk tujuan apa—ditentukan oleh perangkat lunak Valarian, bukan oleh penyedia cloud.

Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko kebocoran atau pengambilalihan data sensitif, terutama dalam konteks yurisdiksi lintas negara. Valarian menegaskan bahwa tata kelola di tingkat infrastruktur memungkinkan mereka mencegah skenario ketika data strategis jatuh ke tangan pihak yang tidak diinginkan, misalnya jika penyedia cloud dipaksa menyerahkan data kepada otoritas Amerika Serikat berdasarkan kerangka hukum domestik mereka.

Max Buchan, CEO sekaligus salah satu pendiri Valarian, menyampaikan kekhawatirannya terhadap konsolidasi infrastruktur intelijen di Barat. “Lapisan intelijen institusi-institusi Barat tengah mengalami konsolidasi: secara senyap, kontrak demi kontrak, departemen demi departemen, ke dalam sistem-sistem yang tidak mereka kendalikan,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan yang kian mengemuka di kalangan pembuat kebijakan: ketergantungan pada platform asing yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali nasional.

Valarian berencana memanfaatkan dana segar ini untuk mempercepat ekspansi di dua segmen utama: enterprise dan pertahanan. Di sektor enterprise, fokusnya adalah organisasi dan departemen yang telah mengadopsi AI dan membutuhkan kendali operasional yang ketat atas data dan model yang mereka gunakan. Di sektor pertahanan, Valarian membidik negara dan program militer yang menjalankan beban kerja misi-kritis, di mana integritas dan kedaulatan data menjadi isu eksistensial, bukan sekadar persoalan kepatuhan regulasi.

Potensi pasar yang dibidik Valarian tidak kecil. Uni Eropa, misalnya, diproyeksikan mengalokasikan belanja pertahanan sebesar 392 miliar euro pada 2025—angka yang mencerminkan ratusan miliar dolar dana publik yang berpotensi mengalir ke teknologi dan infrastruktur baru, termasuk AI berdaulat. Dalam konteks geopolitik yang kian tegang, kemampuan mengendalikan sendiri infrastruktur AI dipandang sebagai bagian dari arsenal strategis, sejajar dengan sistem persenjataan dan jaringan komunikasi.

Dukungan politik terhadap agenda ini juga mulai mengkristal. Kanishka Narayan, Menteri AI dan Keamanan Daring Inggris, secara terbuka menyatakan pentingnya membangun kapabilitas AI berdaulat nasional. “Untuk membentuk nasib kita sendiri, sesuai dengan nilai-nilai kita, sangat penting bagi kita untuk membangun kapabilitas AI berdaulat Inggris,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan pelopor seperti Valarian memahami tantangan yang ada di depan dan tengah membangun solusi yang diharapkan dapat menopang masa depan yang lebih aman dan lebih tangguh.

Di tengah perlombaan global menguasai AI, langkah Valarian menandai babak baru: pergeseran dari sekadar mengembangkan model dan aplikasi, menuju perebutan kendali atas infrastruktur yang menjadi fondasi seluruh ekosistem. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan siapa yang mengendalikan lapisan terdalam tempat model-model tersebut dijalankan. Dalam lanskap baru ini, Valarian berupaya memosisikan diri sebagai salah satu arsitek utama kedaulatan digital.

Recommended Article