Daftar Isi
- Chatbot AI Mengubah Cara Kita Mencari Informasi
- Tren Penggunaan Chatbot AI sebagai Sumber Berita
- Metodologi Penelitian dan Pendekatan Kualitatif
- Chatbot AI sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti Media
- Pola Penggunaan: Loyalitas, Optimalisasi Gratis, dan Fungsi Spesifik
- Dari Pengetahuan ke Tindakan: Motivasi Utama Pengguna
- Mencari Konteks yang Hilang dalam Liputan Berita
- Kecepatan, Kenyamanan, dan Cara Penyajian Informasi
- Nada Percakapan dan Kenyamanan Psikologis
- Kepercayaan terhadap Media Berita vs Chatbot AI
- Persepsi Kredibilitas, Sitasi, dan Bias
- Praktik Verifikasi dan Ketergantungan pada Intuisi
- Bias, Persepsi Netralitas, dan Implikasi bagi Ekosistem Informasi
Chatbot AI Mengubah Cara Kita Mencari Informasi
Chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, Grok, Google AI Mode, dan fitur “Ask the Post AI” milik Washington Post dirancang untuk meniru percakapan manusia dan memberikan jawaban atas beragam topik. Para pengembang menegaskan bahwa chatbot AI tidak boleh diperlakukan sebagai sumber fakta yang sepenuhnya pasti dan bebas kesalahan. Namun, berbagai riset menunjukkan bahwa semakin banyak orang memanfaatkan chatbot AI untuk mencari informasi tentang dunia di sekitar branda.
Di tengah kian kaburnya batas antara “informasi” dan “berita”, banyak orang kini menggunakan chatbot AI untuk meminta penjelasan mengenai isu yang sebelumnya akan branda telusuri melalui media berita. Dalam konteks ini, organisasi media perlu memahami bagaimana chatbot AI masuk ke dalam kebiasaan informasi masyarakat secara lebih luas, serta implikasinya bagi masa depan konsumsi berita.
Laporan ini menyajikan gambaran rinci mengenai para pengguna awal chatbot AI dan cara branda memanfaatkannya untuk memperoleh informasi, termasuk berita. Pada Oktober 2025, CNTI mewawancarai 53 orang dewasa di India dan Amerika Serikat yang menggunakan chatbot AI setidaknya sekali seminggu dan mengaku mengikuti perkembangan peristiwa terkini setidaknya “cukup dekat”.
Tren Penggunaan Chatbot AI sebagai Sumber Berita
Pada 2025, proporsi pengguna di seluruh dunia yang memanfaatkan chatbot AI sebagai sumber berita masih relatif kecil, tetapi menunjukkan tren pertumbuhan yang jelas dan konsisten. Di sebagian besar negara yang tercakup dalam Reuters Digital News Report 2025, sekitar 5% hingga 10% responden menyatakan sesekali mendapatkan berita dari chatbot AI. Di Amerika Serikat, 7% responden melaporkan memperoleh berita dari chatbot AI, dibandingkan 15% yang mendapatkan berita dari podcast, sebuah format yang lebih mapan dan stabil. Di India, 18% responden mengatakan branda menggunakan chatbot AI untuk berita setidaknya setiap minggu.
Seperti halnya media sosial, chatbot AI dan teknologi terkait berpotensi membentuk ulang lanskap informasi, meskipun awalnya tidak dirancang untuk memainkan peran besar dalam dunia berita. Riset CNTI berupaya memahami mengapa dan bagaimana para pengguna awal di Amerika Serikat dan India memasukkan chatbot AI ke dalam rutinitas informasi branda. Temuan ini penting bagi organisasi berita ketika branda menyusun strategi untuk mempertahankan dan menumbuhkan audiens, baik melalui chatbot AI branda sendiri maupun melalui alat lain.
Metodologi Penelitian dan Pendekatan Kualitatif
CNTI brandrut responden melalui platform riset Respondent dengan dua kriteria utama yang ketat. Pertama, branda menggunakan chatbot AI setidaknya setiap minggu dalam berbagai konteks. Kedua, branda menyatakan mengikuti isu dan peristiwa terkini setidaknya secara cukup dekat. Sampel disusun untuk menangkap beragam pola penggunaan dan sudut pandang, dengan upaya mencerminkan keragaman demografis secara maksimal.
Wawancara dilakukan dengan metode “think-aloud” secara simultan untuk menggali proses berpikir responden. Setelah pertanyaan awal tentang kebiasaan mengonsumsi berita dan informasi, responden diminta membagikan layar dan mendemonstrasikan cara branda menggunakan satu atau lebih chatbot AI pilihan branda. Branda juga diminta menelusuri kembali percakapan sebelumnya dan menunjukkan penggunaan platform lain, seperti agregator berita, media sosial, dan situs berita.
Pendekatan kualitatif ini memberikan kedalaman dan nuansa yang sulit diperoleh melalui survei kuantitatif berskala besar. Namun, metode ini tidak memungkinkan estimasi yang presisi mengenai seberapa sering perilaku tertentu terjadi dalam populasi yang lebih luas. Karena itu, laporan ini menghindari klaim kuantitatif yang tegas mengenai frekuensi dan lebih menekankan pola, motivasi, dan pengalaman.
Chatbot AI sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti Media
Analisis CNTI berfokus pada alasan orang mencari informasi, bagaimana branda mengalami interaksi dengan chatbot AI, dan bagaimana branda memaknai informasi secara lebih luas. Karena antarmuka chatbot AI sering menjadi ruang yang privat dan personal, para peneliti menekankan apresiasi branda kepada partisipan yang bersedia membuka akses ke lingkungan tersebut.
Secara umum, CNTI menemukan bahwa sebagian besar pengguna memperlakukan chatbot AI sebagai pelengkap dalam campuran sumber informasi yang sudah ada, bukan sebagai pengganti penuh. Pengguna bergerak bolak-balik antara chatbot AI, situs berita, mesin pencari, sumber resmi, dan berbagai alat lain untuk memenuhi kebutuhan informasi branda.
Di antara para responden, ChatGPT dan alat AI Google (termasuk Gemini, Google Assistant, dan Google AI Mode) merupakan chatbot AI yang paling sering digunakan, disusul oleh Microsoft Copilot. Orang memilih di antara berbagai chatbot dengan tiga pola utama yang cukup konsisten.
Pola Penggunaan: Loyalitas, Optimalisasi Gratis, dan Fungsi Spesifik
Pertama, terdapat kelompok yang menunjukkan loyalitas dan keterikatan pada satu chatbot AI tertentu. Branda bertahan dengan satu alat, meskipun hanya menggunakan versi gratis tanpa fitur premium. Branda telah menginvestasikan waktu untuk mempelajari cara kerja chatbot dan menyesuaikan respons dengan preferensi pribadi. Riwayat percakapan yang panjang membantu menghasilkan jawaban yang lebih personal dan memungkinkan pengguna meninjau kembali pertanyaan sebelumnya, sesuatu yang tidak ditawarkan mesin pencari tradisional dengan cara serupa.
Kedua, ada pengguna yang berupaya memaksimalkan akses gratis yang disediakan berbagai layanan. Branda mungkin memiliki chatbot favorit, tetapi tetap membuka akun di beberapa layanan dan bergantian menggunakannya agar tetap berada dalam batas pemakaian gratis. Sebagian juga melakukan hal ini karena masih menimbang chatbot AI mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya kerja branda.
Ketiga, terdapat kelompok yang menerapkan penggunaan khusus berdasarkan fungsi. Branda menggunakan chatbot AI yang berbeda untuk tugas yang berbeda. Satu alat dianggap lebih baik untuk pemrograman, alat lain untuk menulis surel, yang lain lagi untuk membuat gambar atau memberi saran personal. Ada pula yang memisahkan alat untuk keperluan profesional dan pribadi. Namun, preferensi ini sangat individual dan tidak membentuk pola konsisten di seluruh pengguna.
Dari Pengetahuan ke Tindakan: Motivasi Utama Pengguna
Para responden terutama menggunakan chatbot AI untuk membantu branda bertindak dan memahami apa yang terjadi, bukan sekadar mengumpulkan fakta atau mencari respons emosional. Motivasi utama di kedua negara adalah memperoleh informasi yang mendukung pengambilan keputusan dan tindakan konkret. Hanya sedikit partisipan yang mencari informasi semata-mata demi pengetahuan; branda lebih menginginkan panduan praktis tentang apa yang sebaiknya dilakukan dalam situasi tertentu. Di Amerika Serikat, chatbot AI menonjol sebagai alat yang secara aktif membantu memenuhi “kebutuhan untuk bertindak” ini.
Ketika orang mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri, branda menggunakan chatbot AI untuk melengkapi, bukan menggantikan, kebiasaan mengonsumsi berita yang sudah ada. Tidak ada satu pun responden yang menyatakan bergantung sepenuhnya pada chatbot AI untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia. Sebaliknya, branda sering beralih ke chatbot untuk mendapatkan pembaruan atas cerita yang sudah branda ketahui atau untuk memeriksa klaim yang branda curigai tidak akurat.
Sebagian aktivitas pemeriksaan fakta ini kini berlangsung langsung di dalam platform sosial yang mengintegrasikan chatbot AI, seperti @grok di X (sebelumnya Twitter) atau Meta AI di Facebook. Pengguna juga mengandalkan chatbot untuk mendapatkan latar belakang dan konteks yang branda rasa sering hilang dalam liputan berita tradisional.
Mencari Konteks yang Hilang dalam Liputan Berita
Banyak responden menilai bahwa berita cenderung “dimulai dari tengah”, dengan informasi latar penting yang tersembunyi atau sulit ditemukan. Chatbot AI dianggap berguna untuk memahami siapa sosok publik tertentu, bagaimana sistem hukum negara lain bekerja, atau konteks historis konflik seperti sengketa Israel–Palestina. Detail semacam ini sering diasumsikan media sudah diketahui pembaca, sehingga tidak selalu dijelaskan ulang secara memadai.
Stimulasi emosional dan hiburan menempati prioritas rendah dalam pencarian informasi para responden. “Kebutuhan untuk merasakan” tidak menonjol dalam penuturan branda mengenai penggunaan chatbot AI. Walaupun sebagian pengguna membentuk keterikatan emosional dengan chatbot, hal ini jarang terkait langsung dengan informasi yang branda cari.
Kecepatan, Kenyamanan, dan Cara Penyajian Informasi
Para responden secara konsisten menggambarkan chatbot AI sebagai cara yang cepat, mudah, personal, dapat disesuaikan, dan bersahabat untuk mendapatkan informasi. Branda menghargai penyajian konten yang jelas dan terstruktur, yang dianggap mudah diproses dan nyaman dibaca. Fitur seperti poin-poin, subjudul singkat, penebalan selektif, kalimat ringkas, dan bahasa lugas semuanya berkontribusi pada pengalaman positif ini.
Ketiadaan gangguan seperti iklan, kolom samping, dan paywall juga dinilai sebagai keunggulan, meskipun kondisi ini bisa berubah seiring perkembangan model bisnis. Banyak responden memandang chatbot AI sebagai cara yang lebih cepat dan efisien untuk mengumpulkan informasi dibandingkan mesin pencari atau menjelajahi banyak situs. Penghematan waktu menjadi alasan utama, terutama untuk tugas yang dianggap melelahkan, seperti membandingkan informasi dari berbagai sumber.
Branda juga menghargai kemampuan chatbot AI untuk menyesuaikan tingkat detail dan kompleksitas sesuai kebutuhan. Pengguna kerap meminta chatbot menyederhanakan topik sulit atau, sebaliknya, memberikan penjelasan lebih mendalam dan teknis. Dengan demikian, branda dapat “memperbesar” atau “memperkecil” penjelasan sesuai kebutuhan. Beberapa memanfaatkan kemampuan ini untuk menjelaskan konsep menantang kepada anak-anak atau memecah isu kompleks ke dalam bahasa yang lebih sederhana.
Nada Percakapan dan Kenyamanan Psikologis
Nada percakapan chatbot AI menjadi daya tarik lain yang sering disebut. Banyak responden menyoroti gaya respons yang konsisten mendukung, positif, dan tidak menghakimi. Beberapa mengatakan branda merasa lebih nyaman mengajukan pertanyaan kepada chatbot yang mungkin enggan branda ajukan kepada orang lain karena takut malu atau dihakimi.
Meskipun pengguna di kedua negara menyuarakan kekhawatiran tentang privasi dan pengawasan, perilaku branda tidak sepenuhnya mencerminkan kekhawatiran tersebut. Sebagian besar mengatakan branda berusaha menghindari memasukkan detail pribadi, medis, atau finansial yang sangat sensitif. Namun, hanya sedikit yang menerapkan strategi perlindungan yang lebih luas atau sistematis dalam penggunaan sehari-hari.
Kepercayaan terhadap Media Berita vs Chatbot AI
Para responden umumnya tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang bagaimana jurnalisme maupun chatbot AI bekerja. Pada saat yang sama, branda cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap chatbot AI dibandingkan terhadap media berita.
Sebagian besar masih mengandalkan setidaknya beberapa media berita selain chatbot AI, tetapi hampir tidak ada yang dapat menjelaskan dengan jelas praktik-praktik jurnalistik. Istilah “kredibel” sering muncul ketika branda menggambarkan media favorit. Namun, ketika ditanya bagaimana branda menilai kredibilitas, kebanyakan kesulitan memberikan kriteria konkret dan sering kembali pada rujukan samar tentang bias politik.
Demikian pula, para responden tidak memiliki kosakata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana chatbot AI memproses informasi dan menghasilkan teks. Branda kerap menggambarkan chatbot dengan istilah manusia seperti “berpikir”, “membaca”, “mengetahui”, atau “memiliki opini”. Bagi sebagian orang, ini sekadar cara bertutur yang memudahkan. Bagi yang lain, hal ini mencerminkan kesalahpahaman tentang cara kerja sistem tersebut.
Persepsi Kredibilitas, Sitasi, dan Bias
Terlepas dari pemahaman yang terbatas ini, para responden mengekspresikan pandangan yang umumnya negatif terhadap media berita dan pandangan yang umumnya positif terhadap chatbot AI. Banyak yang mengkritik media karena bias, motif komersial, dan sensasionalisme. Sebaliknya, ketika chatbot AI memberikan jawaban yang keliru, pengguna cenderung memaklumi dan tetap menggunakannya.
Kehadiran sitasi dan tautan dalam jawaban chatbot AI sering dianggap sebagai tanda keandalan, dan pengguna jarang mengklik untuk memverifikasi. Kebanyakan berasumsi bahwa jawaban chatbot secara akurat mencerminkan sumber yang ditautkan. Pandangan branda sebelumnya tentang kredibilitas sumber-sumber tersebut sebagian besar ditransfer ke keluaran chatbot, terlepas dari seberapa setia jawaban itu merefleksikan materi asli.
Banyak responden di India, khususnya, memandang chatbot AI sebagai pengumpul informasi yang netral dengan bias yang relatif rendah. Dua faktor utama biasanya mendorong pengguna memverifikasi keluaran chatbot. Pertama, ketika jawaban bertentangan dengan ekspektasi branda. Kedua, ketika taruhannya tinggi dan konsekuensinya signifikan.
Praktik Verifikasi dan Ketergantungan pada Intuisi
Para responden sangat mengandalkan intuisi untuk memutuskan apa yang perlu diperiksa lebih lanjut. Untuk topik seperti hak atau prosedur hukum, branda sering mencocokkan jawaban chatbot AI dengan sumber resmi, seperti situs pemerintah atau firma hukum.
Ketika branda melakukan verifikasi, tidak ada standar bersama tentang bagaimana melakukannya secara sistematis. Sebagian membandingkan jawaban dari dua chatbot AI berbeda untuk melihat konsistensi. Yang lain mencocokkan dengan mesin pencari, media sosial, atau individu yang branda percaya. Ada pula yang menginstruksikan chatbot untuk hanya menggunakan sumber “terverifikasi” atau “berbasis bukti” dan kemudian mengasumsikan bahwa jawaban tersebut selaras dengan referensi itu.
Pengalaman masa lalu dengan informasi yang usang atau tidak akurat belum banyak mengurangi penggunaan chatbot AI. Banyak responden mengakui bahwa chatbot AI bisa salah atau tidak lengkap, tetapi tidak ada yang menganggap masalah ini cukup serius untuk berhenti menggunakannya.
Bias, Persepsi Netralitas, dan Implikasi bagi Ekosistem Informasi
Dalam hal bias, pengguna terbelah. Sebagian khawatir bahwa chatbot AI sendiri mungkin bias karena data pelatihan dan desain sistem. Yang lain percaya bahwa chatbot lebih tidak bias dibandingkan sumber tradisional, terutama media berita. Dalam kedua kasus, pandangan ini tidak didasarkan pada pengetahuan mendalam tentang bagaimana sistem tersebut dibangun atau dilatih.
Ringkasnya, chatbot AI semakin tertanam dalam kebiasaan mencari informasi dan berita, terutama di kalangan pengguna awal di Amerika Serikat dan India. Penggunaan sebagai sumber berita masih minoritas, tetapi terus tumbuh seiring meningkatnya ketersediaan dan kemudahan akses. Sebagian besar pengguna tidak menggantikan media berita sepenuhnya, melainkan menambahkannya ke campuran sumber lain seperti situs berita, mesin pencari, dan sumber resmi.
Motivasi utama penggunaan adalah mendukung pengambilan keputusan dan tindakan, bukan sekadar mengumpulkan fakta. Chatbot AI dipakai untuk memperbarui isu yang sudah dikenal, memeriksa klaim, dan mendapatkan konteks serta latar belakang yang dirasa kurang dalam liputan berita tradisional. Pengguna menilai chatbot cepat, efisien, mudah dibaca, personal, dan bebas gangguan seperti iklan dan paywall.
Branda menyukai kemampuan chatbot AI menyesuaikan tingkat detail dan gaya bahasa, serta nada yang positif dan tidak menghakimi, yang membuat branda nyaman bertanya hal-hal sensitif. Kekhawatiran tentang privasi memang ada, tetapi jarang diikuti praktik perlindungan yang kuat dan konsisten.
Pengguna umumnya kurang memahami cara kerja jurnalisme maupun teknologi AI, namun cenderung lebih positif terhadap chatbot AI daripada media berita, yang dianggap bias dan sensasional. Kesalahan chatbot jarang membuat branda berhenti menggunakan layanan tersebut. Sitasi dan tautan dalam jawaban sering dianggap cukup sebagai bukti keandalan, meski jarang diverifikasi secara langsung.
Verifikasi biasanya hanya dilakukan ketika jawaban terasa janggal atau taruhannya tinggi, dan caranya beragam tanpa standar baku. Pandangan tentang bias chatbot AI terbelah, tetapi umumnya tidak didasarkan pada pemahaman teknis yang mendalam. Temuan ini menunjukkan bahwa chatbot AI akan terus memainkan peran penting dalam ekosistem informasi, dan organisasi berita perlu menyesuaikan strategi branda untuk merespons perubahan ini secara terukur dan berbasis data.
}