AI Generatif Ubah Cara Kita Menulis

July 22, 2026 | by Luna

AI dan Transformasi Pendidikan Humaniora di Harvard

AI dalam pendidikan humaniora kini menjadi salah satu perdebatan akademik paling tajam di Harvard. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu saya memasukkan sebuah esai lama tentang gerakan abolisionis di Boston ke dalam ChatGPT. Saya memintanya mengidentifikasi tiga aspek yang berhasil dan tiga aspek yang perlu diperbaiki. Dalam hitungan detik, sistem tersebut menyajikan analisis terperinci dan terstruktur, seolah-olah meniru pekerjaan yang selama ini saya lakukan sebagai tutor di Harvard College Writing Center. Bedanya, ia menyelesaikan tugas itu hanya dalam sekitar sepuluh detik.

ChatGPT menilai bahwa tesis saya dapat dibuat lebih argumentatif dan fokus. Ia menunjukkan bagian yang terlalu bertele-tele dan menandai frasa yang berulang. Meski demikian, tidak semua sarannya tepat. Sebagai penulis dan editor semi-profesional, saya cukup percaya diri untuk menyaringnya. Selain itu, saya dapat membedakan mana masukan yang berguna dan mana yang sebaiknya diabaikan. Yang paling menarik dari “tutor” AI ini adalah ketekunannya dan kesediaannya menerima kritik tanpa lelah. Ketika saya menulis, “Itu saran yang buruk,” ia segera merevisi rekomendasinya tanpa keberatan.

Perlu saya tekankan bahwa esai yang saya unggah sudah berusia beberapa tahun; saya menggunakan AI murni karena rasa ingin tahu akademik. Selain itu, saya mematuhi kode kehormatan Harvard dan mengikuti kebijakan AI di setiap mata kuliah yang saya ambil. Sebagai mahasiswa sejarah dan sastra, sebagian besar kelas humaniora saya melarang penggunaan AI generatif karena dipandang sebagai jalan pintas yang merusak proses belajar yang seharusnya berlangsung secara mendalam. Namun demikian, AI dalam pendidikan humaniora jelas tidak akan hilang dari ekosistem akademik. Pertanyaannya, bagaimana teknologi ini dapat hidup berdampingan dengan tujuan pendidikan humaniora yang menekankan refleksi kritis? Selanjutnya, apa dampaknya bagi masa depan penulisan akademik maupun kreatif di universitas?

Teknopanik dan Kebijakan Kampus

Harvard saat ini berada dalam situasi yang dapat disebut sebagai “teknopanik”, dengan AI sebagai pusat kegelisahan institusional. Bahkan, sesuatu yang dulu dianggap sekadar gimmick kini menjelma menjadi alat sehari-hari yang mudah diakses. Menyontek dapat terjadi hanya dengan menyalin dan menempel keluaran model bahasa. Selain itu, AI mampu meringkas bacaan, membuat panduan belajar, menulis potongan kode, menyusun esai respons, bahkan mensimulasikan riset. Masalahnya, sitasi yang dihasilkan sering merujuk pada sumber fiktif—fenomena yang dikenal sebagai “halusinasi”.

Eksperimen Bodnick: Ketika ChatGPT Meraih IPK 3,57

Pada 2023, Maya Bodnick ’26 melakukan sebuah eksperimen yang mengguncang persepsi tentang AI dalam pendidikan humaniora di Harvard. Ia mengumpulkan esai-esai yang ditulis ChatGPT untuk semua kelasnya selama satu semester. Selanjutnya, ia memberi tahu para pengajar bahwa setiap esai akan ditulis oleh dirinya atau oleh AI, tanpa menjelaskan pembagian spesifik. Faktanya, seluruh esai dihasilkan oleh AI generatif. Para pengajar mengetahui bahwa ia sedang melakukan eksperimen dan baru memberi nilai setelah semester berakhir. Meski demikian, sebagian besar esai itu tetap mendapat nilai lulus yang cukup tinggi. Pada akhirnya, ChatGPT menutup semester dengan IPK 3,57—angka yang setara dengan kinerja akademik yang baik.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa, secara teoritis, seorang mahasiswa dapat menyelesaikan studi di Harvard dengan aliran teks instan. Bahkan, ia dapat meraih gelar dan memasuki dunia kerja dengan sedikit sekali kerja intelektual yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sejak 2022, para dosen mulai merancang berbagai kebijakan untuk membatasi penyalahgunaan AI di humaniora dan bidang lain. Sebagai contoh, dalam sebuah mata kuliah sastra Rusia abad ke-19, profesor saya mengganti ujian tertulis dengan ujian lisan tentang Anna Karenina.

Di mata kuliah Gen Ed 1200: “Justice”, sekitar 800 mahasiswa, termasuk saya, mengikuti ujian buku biru dengan sepuluh pertanyaan esai panjang yang harus dijawab secara langsung. Akibatnya, kami keluar dari ruang ujian dengan tangan kejang dan kepala lelah setelah menulis berjam-jam. Ujian semacam itu memang bukan solusi sempurna untuk mencegah kecurangan. Meski begitu, para profesor benar ketika mereka mencoba memikirkan ulang cara menilai pemahaman individu secara lebih autentik di era ketika seolah-olah seluruh pengetahuan manusia hanya berjarak satu klik melalui AI.

Ujian Lisan, Esai Tertulis, dan Nilai Pedagogis Menulis

Persiapan ujian lisan Anna Karenina membuka mata saya terhadap bentuk pembelajaran yang lebih dialogis. Saya dapat menghafal detail alur dan simbol-simbol penting dalam novel tersebut. Meski demikian, saya tidak mungkin menebak semua pertanyaan analitis yang akan diajukan profesor tentang novel setebal sekitar 800 halaman itu. Dengan kata lain, saya harus menarik dari apa yang benar-benar saya pahami dan merespons secara spontan di hadapan penguji. Pengalaman itu terasa seperti menjadi model bahasa besar yang diminta menghasilkan jawaban secara langsung berdasarkan “korpus” internal. Meski begitu, prosesnya sangat menantang sekaligus memuaskan karena menuntut pemahaman yang sungguh-sungguh.

Meski demikian, ujian lisan bersifat sesaat dan improvisasional. Ujian ini efektif untuk menguji pemahaman luas dan kemampuan analitis umum mahasiswa. Namun, ketika tujuan utamanya adalah menilai kemampuan mahasiswa mengembangkan argumen yang bernuansa dan orisinal, esai tertulis tetap menjadi bentuk utama. Bentuk inilah yang kini berada di bawah tekanan akibat AI dalam pendidikan humaniora yang dapat menghasilkan teks dengan cepat. Oleh karena itu, kehadiran AI yang meluas dan kecemasan institusional tentang kecurangan menyoroti kenyataan penting: tidak semua tulisan memiliki fungsi dan nilai yang sama.

Pertama, ada seni menulis—karya yang kaya secara estetis, ambisius secara intelektual, dan mampu mengubah cara orang berpikir. Sebagai penulis di The Crimson dan kolumnis untuk majalah ini, saya menghabiskan banyak waktu untuk jenis tulisan ini. Saya percaya tulisan semacam ini benar-benar dapat menggerakkan orang dan membentuk opini publik. Kedua, ada penulisan sebagai keterampilan praktis yang lebih fungsional, yaitu prosa yang tujuan utamanya menyampaikan informasi secara jelas dan efisien. Justru kategori kedua inilah—tulisan rutin dan formulaik—yang paling rentan terhadap otomatisasi oleh AI, baik dalam AI dalam pendidikan humaniora maupun dalam konteks profesional lain.

AI sebagai Asisten Penulisan: Antara Efisiensi dan Ketergantungan

Saat ini, saya menyusun sebagian besar email formal dengan bantuan AI generatif yang tersedia luas. Sebagai manusia yang mudah ragu, bimbang, dan terdistraksi, saya sering merasa AI lebih efisien dan ringkas. Faktanya, dalam waktu yang saya habiskan hanya untuk menentukan sapaan yang tepat bagi seorang profesor, ChatGPT dapat menghasilkan beberapa draf email lengkap. Setelah memahami maksud saya, AI dapat mengusir kebuntuan menulis dan menahan kecenderungan saya mengutak-atik kalimat tanpa henti. Dengan demikian, semua itu terjadi hanya dengan satu prompt yang jelas. Namun, di sinilah letak masalah struktural yang perlu diperhatikan.

Menjadi penulis yang baik biasanya membutuhkan bertahun-tahun menghasilkan tulisan yang biasa-biasa saja dan penuh revisi. Bagi Soleil Saint-Cyr ’25, mahasiswa gabungan sejarah dan sastra serta ilmu komputer, ketergantungan pada AI merusak tujuan utama pendidikan humaniora. Sebagai contoh, beberapa mata kuliah ilmu komputernya secara eksplisit mengizinkan penggunaan AI sebagai asisten teknis; mahasiswa bahkan dapat mengumpulkan transkrip ChatGPT sebagai bukti proses kerja. Meski begitu, ia menolak penggunaan AI dalam pendidikan humaniora, bahkan sekadar untuk mengedit esai yang sudah selesai. “Jika saya ingin menjadi penulis yang lebih baik,” katanya, “saya harus berlatih; dan latihan mencakup pemeriksaan-pemeriksaan kecil itu.”

Di Harvard College Writing Center, kebijakan kami jelas dan tegas. Tutor tidak boleh melakukan penyuntingan baris atau memoles kalimat mahasiswa secara langsung. Sebaliknya, peran kami adalah membantu mahasiswa membangun argumen yang koheren dan mengekspresikan gagasan kompleks dengan jelas. Sebagian besar sesi berfokus pada ide dan struktur, bukan pada kalimat individual atau tata bahasa semata. Namun, AI dalam pendidikan humaniora semakin mahir menghasilkan argumen yang jelas dan terstruktur dengan baik. Bahkan, ia sangat kuat dalam organisasi logis dan penyusunan kerangka. Akibatnya, tugas yang mungkin memakan waktu berjam-jam bagi seorang mahasiswa dapat diselesaikan model bahasa besar hanya dalam hitungan detik.

Otentisitas, Kecurangan, dan Tujuan Pendidikan Harvard

Seiring teknologi membaik, mungkin akan semakin sulit membedakan esai yang dihasilkan AI dari esai yang ditulis mahasiswa. Padahal, menulis yang baik menuntut waktu, usaha, dan refleksi mendalam. Karena itu, tidak adil menilai karya yang dihasilkan AI sejajar dengan esai yang lahir dari pergulatan panjang seorang mahasiswa. Ada nilai pedagogis yang signifikan dalam melihat apa yang dapat diciptakan mahasiswa sepenuhnya sendiri, lalu mendiskusikannya secara kritis bersama dosen dan tutor. Mungkin karena itu, dalam banyak percakapan yang saya lakukan, mahasiswa dan dosen cenderung lebih toleran terhadap penggunaan AI untuk menyempurnakan ide yang sudah ada. Sebaliknya, mereka jauh lebih khawatir ketika AI digunakan untuk menghasilkan esai lengkap dari nol tanpa keterlibatan intelektual mahasiswa.

Ketegangan ini mengarah pada pertanyaan yang lebih dalam dan fundamental: untuk apa sebenarnya pendidikan Harvard itu. Kebanyakan orang mungkin sepakat bahwa lulusan harus mampu berpikir kritis dan mandiri. Dengan kata lain, kemampuan memproduksi esai hanyalah sarana, bukan tujuan utama pendidikan humaniora. Jika tujuan utama Harvard adalah menghasilkan penulis yang mahir secara teknis, melatih mahasiswa berkolaborasi dengan AI sejak awal mungkin sudah cukup. Mereka akan siap memanfaatkan alat ini di dunia kerja yang sarat teknologi. Akan tetapi, belajar berpikir secara mandiri membutuhkan studi, latihan, dan usaha yang serius dan berkelanjutan.

AI mungkin suatu hari mampu menghasilkan esai tanpa cela secara gramatikal dan struktural. Namun, selama kita masih menghargai penalaran orisinal, penalaran itu tetap harus diajarkan secara eksplisit. Penulisan tradisional dan analog telah lama menjadi cara efektif untuk melatihnya, dan inilah salah satu inti dari AI dalam pendidikan humaniora yang sesungguhnya. Meski begitu, sebagian mahasiswa mungkin membaca tentang eksperimen Bodnick dan melihatnya sebagai panduan praktis untuk melanggar aturan. Padahal, saya cenderung percaya bahwa banyak mahasiswa yang menyontek melakukannya bukan semata karena malas; tekanan akademik dan beban hidup sering menjadi faktor utama yang mendorong mereka mencari jalan pintas.

Menulis sebagai Proses Iteratif di Era AI

Menulis dan berpikir itu menegangkan dan melelahkan secara mental. Berdasarkan pengalaman saya, ketegangan itu tidak selalu berkurang dengan latihan yang berulang. Mahasiswa di luar humaniora mungkin tidak melihat nilai menghabiskan berjam-jam menyusun ulang esai, apalagi ketika mereka juga menghadapi set problem, komitmen ekstrakurikuler, pekerjaan, dan kewajiban lain yang menyita waktu. Namun, menulis tidak selalu tentang produk akhir yang dinilai. Sebaliknya, dalam bidang seperti pemrograman, AI bisa sangat berguna sebagai alat produksi karena dapat menghasilkan kode fungsional yang menyelesaikan tugas tertentu. “Mungkin kodenya jelek, tapi fungsional,” kata Saint-Cyr. “Hubungan sebab-akibat semacam itu tidak ada dalam sastra dan penulisan esai.”

Ketika saya bekerja dengan mahasiswa, salah satu pelajaran pertama yang saya tekankan adalah bahwa semua penulisan bersifat iteratif. Prosesnya sering melelahkan dan memakan waktu panjang. Faktanya, pada saat kolom ini terbit, ia telah melalui setidaknya empat draf dan disunting oleh sedikitnya lima pikiran berbeda—empat manusia dan satu artifisial. Untuk menulis sesuatu yang benar-benar kuat, Anda harus rela menghapus sebagian besar dari apa yang telah Anda tulis. Sayangnya, banyak orang tidak pernah diajari hal ini di sekolah menengah; saya sendiri tidak. Sebagai mahasiswa baru, saya menghabiskan berjam-jam menatap halaman kosong, yakin bahwa setiap kalimat harus muncul dalam bentuk sempurna sejak awal.

Saya mengambil mata kuliah penulisan pengantar sebelum AI generatif tersedia luas di kampus. Saat itu, saya menganggap menulis berarti bergulat dengan sebuah ide hingga menjadi kalimat-kalimat koheren. Kini, saya memahami bahwa revisi adalah “kawah” tempat penulisan ditempa dan dimurnikan. Dengan demikian, saya berkembang melalui proses coba-coba yang telaten dan berulang, dan proses itu membentuk pertumbuhan intelektual serta kreatif saya sebagai penulis. Sebagai penulis yang lebih berpengalaman, saya mendapati bahwa AI dalam pendidikan humaniora dapat menjadi mitra revisi yang berguna. Ia membantu saya melihat karya saya dari sudut pandang baru yang lebih dingin dan objektif.

AI sebagai Mitra Revisi, Bukan Pengganti Penalaran

Saya sering beralih ke ChatGPT ketika buntu atau ketika saya menginginkan pandangan lebih objektif terhadap prosa saya. AI tidak memiliki “kesayangan”, sehingga ia dapat dengan kejam memotong bagian yang terlalu saya sayangi. Sebagai contoh, dengan perbandingan kuno, AI dapat berfungsi seperti operator telegraf yang cekatan: fasih dalam “stenografi” yang diperlukan untuk menyampaikan pesan saya secara efisien. Meski begitu, yang penting, semua yang ia tawarkan bersifat opsional dan dapat ditolak. Menurut saya, nilai AI dalam penulisan meningkat seiring meningkatnya keterampilan penulis, karena saya dapat mengambil manfaat dari AI setelah tahu seperti apa tulisan yang kuat, ringkas, dan bernas. Dengan begitu, saya telah menanamkan waktu yang kini memungkinkan saya menghemat waktu melalui kolaborasi dengan AI dalam pendidikan humaniora.

Sejauh Mana Peran AI dalam Tulisan Ini?

Lalu, seberapa banyak dari kolom ini yang ditulis ChatGPT? Sangat sedikit jika diukur secara kuantitatif. Faktanya, ia hanya menyarankan beberapa suntingan dan menunjukkan redundansi yang tidak saya sadari. Namun, ide, struktur, dan suara adalah milik saya sebagai penulis utama. Sebaliknya, AI tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing tulisan ini sejak awal, dan ia tidak mengalami keraguan atau momen kecil pencerahan yang membentuk esai ini. Salah satu aspek paling manusiawi dari pekerjaan kami di Writing Center adalah menebak apa yang sebenarnya ingin dikatakan mahasiswa. Kami mencoba menangkap percikan niat dan garis besar samar sebuah ide, lalu membantu mereka memfokuskannya.

AI mungkin cerdas dalam arti komputasional, tetapi ia bukan mahatahu dan tidak benar-benar peka terhadap konteks emosional. Ia mungkin akan menggerus sebagian pekerjaan saya sebagai tutor. Sebagai contoh, ia dapat secara andal mengidentifikasi banyak revisi umum yang kami minta mahasiswa lakukan—misalnya mempertajam tesis, menghilangkan pengulangan, dan memperketat logika argumen. Dengan prompt yang tepat, AI dalam pendidikan humaniora bisa sangat membantu bagi mahasiswa dan dosen. Selain itu, ia tidak pernah lelah, tersedia pada pukul tiga pagi, dan tidak punya janji lain yang menunggu. Meski begitu, ada satu hal penting yang tidak dapat ia lakukan, bahkan dengan kemajuan teknologi: AI tidak dapat menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh Anda.

Recommended Article