Table of Contents
- Santiago Schnell dan Kontroversi Penggunaan AI dalam Penulisan Akademik
- Temuan The Dartmouth tentang Tulisan Santiago Schnell
- Awal Mula Sorotan
- Perbandingan Sebelum dan Sesudah ChatGPT
- Pengakuan dan Penjelasan Santiago Schnell
- Apa Itu Detektor AI dan Bagaimana Cara Kerjanya?
- Keandalan Detektor AI dan Kritik terhadapnya
- Uji Semafor terhadap Kolom Opini Tamu
- Mengapa Debat Ini Penting bagi Dunia Akademik
- Pertanyaan Umum tentang Santiago Schnell dan Detektor AI
- Siapa Santiago Schnell?
- Apakah Santiago Schnell terbukti menulis seluruhnya dengan AI?
- Apakah detektor AI sepenuhnya akurat?
- Kesimpulan: Santiago Schnell dan Masa Depan Penulisan Akademik
Santiago Schnell dan Kontroversi Penggunaan AI dalam Penulisan Akademik
Tulisan Santiago Schnell, Provost Dartmouth, menjadi sorotan setelah ditandai sebagai teks yang sebagian besar “ditulis oleh AI”. Penandaan itu muncul dari alat deteksi artificial intelligence bernama Pangram.
Kasus ini membuka perdebatan lebih luas tentang batas penggunaan AI dalam penulisan akademik, dan seberapa bisa diandalkan alat deteksinya.
Temuan The Dartmouth tentang Tulisan Santiago Schnell
The Dartmouth menyelidiki artikel akademik dan opini yang ditulis Santiago Schnell pada 2026. Menurut penyelidikan itu, median persentase teks yang “ditulis oleh AI” mencapai 96%, berdasarkan alat deteksi Pangram.
Pangram memakai model bahasa besar untuk membedakan konten buatan manusia dan AI. Dalam audit Oktober 2025 oleh Universitas Chicago, Pangram dinyatakan punya tingkat kesalahan “hampir nol.”
Awal Mula Sorotan
Pada 26 Agustus, investigasi Semafor memakai Pangram untuk menandai kolom Schnell di The Washington Post sebagai “100% ditulis oleh AI.” Kolom itu berjudul “Universities are fighting AI cheating. But there’s a deeper problem.”
Isinya berargumen bahwa gelar akademik seharusnya mencerminkan kemampuan independen mahasiswa, bukan ketergantungan mereka pada alat AI.
Perbandingan Sebelum dan Sesudah ChatGPT
Setelah itu, The Dartmouth menganalisis publikasi Schnell sebelum dan sesudah peluncuran ChatGPT pada November 2022.
Pangram 4.0, versi terbaru alat itu, menandai semua karya Schnell sebelum 2022 sebagai “100% ditulis manusia.” Namun sembilan publikasinya pada 2026 menunjukkan median “ditulis oleh AI” sebesar 96%.
Pengakuan dan Penjelasan Santiago Schnell
Dalam email tertanggal 18 September kepada The Dartmouth, Santiago Schnell mengakui memakai AI untuk penyempurnaan bahasa, penyuntingan salinan, dan peningkatan kejelasan. Ia menekankan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas konten akhir.
Ia menyatakan, “Saya mengembangkan ide dan argumen, melakukan penelitian, mengevaluasi bukti dan sumber, menentukan struktur, menyiapkan draf, dan memutuskan apa yang muncul dalam teks akhir. Saya menganggap teknologi ini sebagai alat bantu. Teknologi ini tidak mengidentifikasi masalah, merancang proyek penelitian, menjamin validitas hasil penelitian, interpretasi, kutipan, kesimpulan, atau menggantikan penelitian, penilaian intelektual, atau kepenulisan saya.”
Menariknya, Pangram juga menandai email 18 September itu sebagai “100% ditulis oleh AI.” Dalam pernyataan lanjutan, Schnell menjelaskan bahwa ia menyusun draf email sendiri, memakai AI untuk peningkatan bahasa dan kejelasan, lalu menyunting versi akhirnya.
Ia menegaskan kembali bahwa ia bertanggung jawab penuh atas setiap teks yang ia tandatangani.
Apa Itu Detektor AI dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Detektor AI adalah alat yang memperkirakan apakah sebuah teks ditulis manusia atau dihasilkan mesin. Alat ini menganalisis pola bahasa, seperti pilihan kata dan susunan kalimat, lalu memberi skor kemungkinan.
Hasilnya berupa perkiraan, bukan bukti pasti tentang siapa yang menulis. Teks yang disunting dengan bantuan AI, misalnya, bisa berada di wilayah abu-abu antara tulisan manusia dan tulisan mesin.
Keandalan Detektor AI dan Kritik terhadapnya
Schnell mempertanyakan keandalan detektor AI. Ia berpendapat bahwa alat semacam ini rentan bias terhadap penutur non-pribumi bahasa Inggris seperti dirinya.
Studi Universitas Stanford pada Juli 2023 menemukan bahwa banyak detektor AI salah mengklasifikasikan tulisan penutur non-pribumi bahasa Inggris sebagai teks buatan AI. Pangram tidak termasuk dalam studi itu, dan perusahaannya mengklaim perangkat lunaknya akurat untuk kelompok tersebut.
Sebuah studi pracetak Universitas Notre Dame dari Agustus 2026 menemukan bahwa detektor AI, termasuk versi lama Pangram, kesulitan membedakan pengeditan berbantuan AI dari teks yang sepenuhnya dihasilkan AI.
Pangram 4.0 dilaporkan punya tingkat positif palsu hanya 0,01%, menurut rilis media Juli 2026.
Uji Semafor terhadap Kolom Opini Tamu
Selama investigasi itu, editor teknologi Semafor Reed Albergotti menguji lebih dari 300 kolom opini tamu dari The Wall Street Journal, The New York Times, dan The Washington Post.
Sebagian kecil namun signifikan ditandai sebagai tulisan AI, dengan The Wall Street Journal memiliki jumlah tertinggi.
Albergotti mencatat bahwa kolom Schnell di Washington Post memang ditandai sebagai tulisan AI. Namun menurutnya, artikel itu tampak sebagai karya yang dipikirkan matang, bukan “hasil AI yang asal-asalan.”
Mengapa Debat Ini Penting bagi Dunia Akademik
Kasus Santiago Schnell menyentuh pertanyaan yang kini dihadapi banyak kampus: di mana batas antara AI sebagai alat bantu dan AI sebagai penulis?
Bantuan bahasa dan penyuntingan umum dianggap wajar di banyak tempat, tetapi aturannya berbeda antarinstitusi. Karena itu, kebijakan yang jelas soal pengungkapan penggunaan AI menjadi semakin penting.
Perdebatan ini juga menunjukkan bahwa skor detektor sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar menilai kepenulisan. Hasilnya perlu dibaca bersama konteks, bukti lain, dan penjelasan penulis.
Pertanyaan Umum tentang Santiago Schnell dan Detektor AI
Siapa Santiago Schnell?
Santiago Schnell adalah Provost Dartmouth, yang tulisan akademik dan opininya dianalisis dalam penyelidikan The Dartmouth.
Apakah Santiago Schnell terbukti menulis seluruhnya dengan AI?
Tidak ada bukti semacam itu dalam teks ini. Hasil Pangram adalah perkiraan alat deteksi. Schnell sendiri mengaku memakai AI untuk penyempurnaan bahasa dan penyuntingan, tetapi menegaskan ide, penelitian, dan keputusan akhir ada di tangannya.
Apakah detektor AI sepenuhnya akurat?
Belum. Beberapa studi yang disebut dalam laporan ini menunjukkan detektor bisa keliru, terutama pada tulisan penutur non-pribumi bahasa Inggris dan teks yang disunting dengan bantuan AI. Pihak Pangram sendiri mengklaim akurasi tinggi.
Kesimpulan: Santiago Schnell dan Masa Depan Penulisan Akademik
Kasus Santiago Schnell menunjukkan betapa sulitnya menarik garis antara bantuan AI dan kepenulisan manusia. Satu pihak menunjuk skor detektor, pihak lain menekankan tanggung jawab penulis atas isi akhir.
Selama alat deteksi masih diperdebatkan, aturan yang jelas tentang penggunaan AI dan kebiasaan mengungkapkannya kemungkinan menjadi jalan tengah yang paling praktis bagi dunia akademik.